Selasa, 20 Februari 2018

2018#4: Kisah Hidup Morrigan Crow

Judul asli: Nevermoor, The Trials of Morrigan Crow
Penulis: Jessica Townsend
Penerjemah: Reni Indardini
Editor: Yuli Pritania
ISBN: 9786023853571
Halaman: 464
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 84.000
Rating: 3,5/4

Aku tercatat di Register Anak Terkutuk. 
Malam ini Eventide. 
Aku akan mati saat tengah malam

Bagi banyak orang tua, anak merupakan anugrah. Bahkan jika belum juga memiliki anak, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan anak. Segala daya dan upaya dilakukan. Tapi  sepertinya tidak  demikian pendapat beberapa orang tua di  Jackalfax.

Di sana,  ada beberapa anak yang dianggap membawa nasib sial, anak yang terkutuk. Anak-anak tersebut bahkan dibuatkan semacam daftar agar mudah dipantau keberadaannya serta apa saja kemalangan yang sudah mereka timpakan pada orang lain.

Orang tua yang memiliki anak seperti itu harus siap mendapat tekanan dalam banyak bentuk. Ada yang mengirimi permintaan maaf karena tak sengaja sang anak mengomentari suatu hal lalu terjadi hal buruk karenanya. Hingga ganti ruti karena anggota keluarga meninggal hanya karena tak sengaja bertatapan mata.
 
Menyeramkan? Ada yang lebih menyeramkan lagi. Anak-anak tersebut konon sudah diramalkan akan meninggal pada malam Eventide. Jadi para orang tua diharap bersabar memiliki anak terkutuk hingga anak tersebut meninggal kelak. Sementara sang anak diharap untuk tahu diri tidak menyebabkan banyak kemalangan sebelum meninggal. Salah satu anak yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Morrigan Crow

Morrigan hidup bersama dengan ayah yang merupakan politisi kawakan dan tak henti mengeluh harus membayar ganti rugi akibat hal-hal negatif yang dihubungkan dengannya. Nenek yang terkesan bersikap masa bodoh padahal sebenarnya mencintainya, serta ibu tiri yang sudah tak sabar menyiapkan sebuah upacara pemakaman baginya.  Semuanya seakan bernapas  lega jika akhirnya Morrigon tak ada di antara mereka.

Kemalangannya mendadak berubah ketika bertemu dengan sosok misterius yang mengendarai model transportasi yang tak kalah anehnya. Kapten Jupiter Amanthius North merupakan anggota terpandang Wundrous Society, Liga Penjelajah, dan Federasi Perhotelan Nevermoor. Sekretaris Komisi hak-hak Wunimak, relawan  pejuang buku Perpustakaan Gobleian, dan ketua Lembaga Amal untuk Mantan Robot Pelayan. Penemu tujuh belas semesta yang semula tak terdokumentasikan  dan peraih gelar Pria Perlente Tahun Ini versi majalah Pria Parlente selama empat tahun berturut-turut. Ia membawa Morrigan  membawanya ke Nevermoor.

Kehidupan Morrigan berubah di sana. Ia mendapatkan segala hal yang tak pernah diperoleh selama tinggal bersama keluarganya. Semua hal juga tampaknya akan berbeda dengan yang selama ini ia alami di tempat tinggal yang lama. Semua seakan berjalan sempurna bagi Morrigan, hingga  Kapten Jupiter memberitahukan alasan sebenarnya membawa Morrigan ke Nevermoor.

Pembaca akan diajak mengikuti kisah pencarian jati diri seorang anak perempuan yang mengharukan. Meski demikian, jangan harap ada banyak adegan yang menguras air mata. Sosok Morrigan yang digambarkan tegar justru membuat kisah dalam buku ini menjadi lebih bervariasi. Ada momen tertawa, takut, bahagia dan sedih tentunya.

Entah hanya perasaan saya saja, namun sepertinya Jessica Townsend cukup terinspirasi dari kisah Harry Potter dan kisah klasik lainnya ketika menulis kisah tentang Morrigan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kemiripan yang muncul dalam kisah.

Misalnya pada  bagian yang mengisahkan tentang seleksi untuk masuk menjadi anggota Wundrous Society, langsung membuat saya teringat pada Turnamen Triwizard  pada buku HP ke-4. Bedanya dalam kisah ini tiap kandidat harus memiliki seorang  pengayom yang juga merupakan anggota.  Mereka yang lulus  ujian  akan menjadi semacam saudara, orang yang rela membaktikan hidup untuk kita. Dan hadiah yang diperoleh bukan uang tapi keanggotaan

Kemiripan lain ada dalam hal musuh yang namanya enggan disebut dan tak diizinkan masuk ke wilayah Nevermoor. Plus nyaris tak ada orang yang masih menyimpan fotonya. Bahkan  Morrigan juga digambarkan tidak pernah mendengar ada yang mau membicarakan tentang sosok  yang dijuluki Pembantai Nevermoor. Apapun alasannya bagian ini makin mirip dgn kisah HP.

Selanjutnya yang membuat saya ingat pada sebuah kisah klasik adalah kover buku ini. Pertama kali melihat kover buku ini, saya langsung teringat pada kisah Marry Poppins. Digambarkan sosok  Marry Poppins  mempergunakan payung sebagai sarana transportasi. Untuk  informasi singkat mengenai Marry Poppins bisa  dilihat di sini.

Oh ya untuk kover, sebenarnya saya paling suka dengan kover versi bahasa Jerman. Selain didominasi dengan warna biru (ehem), gambarnya membuat saya merasakan semangat seorang anak dalam menjalani kehidupan. Benda yang ia pegang, justru makin membuat saya penasaran dengan isi kisah dalam buku ini.

Selain hiburan, saya juga jadi belajar semua kata baru. (duh, maaf jika saya baru tahu).  Pada halaman 98 tertulis, "... dan melompat dari langkan." Maknanya bisa  dilihat di link ini. Juga kata mendugalkan. Tepatnya tertulis  di halaman 150, "Pria mendugalkan. Hindari dia layaknya cacar." Penjelasannya ada di link berikut ini.

Ada satu pesan moral yang paling mengena bagi saya. Ketika sedang mengikuti perlombaan, Morrigan mencoba menolong seorang peserta yang nyaris celaka. Ia membawa peserta itu menaiki tunggangannya bersama. Niat baiknya itu justru membuatnya celaka. Karena duduk di depan maka anak itu yang dianggap memenangkan perlombaan, ia kalah. Ironinya, sang anak yang ditolong juga  mengklaim ialah pemilik tunggangan dan berhasil melakukan tugas dengan baik.

Pada halaman 257 tertulis, "Kenapa semua orang mengira bahwa sikap kesatria dan sportif akan menguntungkan mereka? Kami menguji kegigihan dan ambisi, bukan kebaikan hati." Hal tersebut memberikan pencerahan bahwa berbuat baik  dengan menolong sesama merupakan hal yang perlu dan harus dilakukan. Hanya harus diingat kapan bisa dilakukan kapan harus bersikap masa bodoh demi keselamatan diri sendiri. Menolong adalah hal baik, tapi jangan sampai merugikan diri sendiri.

Sempat penasaran pada akhir yang berkesan tak tuntas. Semula saya menganggap beginilah cara penulis mengakhiri kisah. Jika sambutan menggembirakan dilanjutkan, jika tidak ya sudah. Belakangan, saat membuat ulasan baru saya sadari ada tulisan Buku Satu. Duh, semoga buku selanjutnya segera muncul di tanah air. Pahamkan kenapa bintangnya jadi "cuman segitu."

Sumber gambar:
Goodreads


Selasa, 30 Januari 2018

2018#3: Kisah Cinta Sang Sultan

Penulis: Sunardian Wirodono
Penyunting: Endah Sulwesi
Penggambar sampul: Yudi Irawan
ISBN: 9786026799333
Halaman: 216
Cetakan: Pertama-Desember 2017
Penerbit: Javanica
Harga: Rp 65.000
Rating: 3.5/4

Cinta bukanlah dua jiwa yang dipersatukan, tetapi dua jiwa yang saling menjaga dan menghargai. Betapa malangnya jika dalam cinta kita kehilangan jiwa kita, menjadi jiwa yang lain, walaupun jiwa yang lain itu sangat kita cintai. Aku tak ingin kehilangan jiwaku.
~ Cinta Terakhir Sang Sultan, hal 39~

Segala sesuatu  kadang terjadi begitu saja, seakan memang sudah selayaknya terjadi.  Seolah alam berperan. Demikian juga dengan buku ini. Semula, saya mendapat buku tipis tentang Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Peringatan 40 Tahun. Sel kelabu saya langsung mengarah pada koran Buana Minggu yang saya baca saat kecil (baik, mungkin aneh anak kecil baca koran seperti itu).

Salah satu artikel membahas tentang pernikahan  Sri Sultan Hamengku Bowono IX dengan seorang wanita yang bukan dari suku Jawa. Banyak pihak yang berkomentar miring mengenai pernikahan tersebut. Saya jelas tidak paham kenapa. Timbul rada ingin tahu yang menggelitik. Tapi saya tentu tak berani bertanya pada sesepuh. Terbayang sudah jawaban yang akan saya terima.

Dan, gayung bersambut. Sebuah buntelan  buku yang mengisahkan mengenai kisah kasih beliau berdua dari  Penerbit Javanica mendarat beberapa waktu lalu.  Meski butuh waktu lumayan lama, rasa penasaran saya terjawab sudah.

Awalnya, saya mengira ini merupakan buku yang berisikan hal-hal romantis yang terjadi antara Sri Sultan Hamengku Bowono IX  dengan istrinya, Norma Nindyokirono. Judulnya saja Cinta Terakhir Sang Sultan. Pastilah menceritakan tentang awal mereka bertemu hingga maut memisahkan, dengan bunga-bunga indah tentunya.

Tak jauh meleset perkiraan saya. Memang ada bagian romantis namun ada juga bagian yang mengisahkan mengenai bagaimana situasi dan kondisi Bung Karno, Haji Agus Salim dan beberapa tokoh nasional  ketika dibuang ke Mentok, Bangka. Dan banyak hal lainnya. Bisa dikatakan buku ini merupakan paket komplit

https://nasional.tempo.co/
Kisahnya dimulai dengan uraian mengenai kehidupan Norma remaja. Lalu bertemu Bung Karno dan ikut ke Jakarta sampai akhirnya menjadi istri Sri Sultan Hamengku Buwono IX.  Beberapa bagian dengan gamblang mengisahkan bagaimana kedua bertemu untuk pertama kali, jatuh cinta hingga menikah. Ternyata butuh wakta lama bagi seorang Norma untuk menerima pinangan  Sri Sultan HB IX. Ah! Saya baru mulai paham kenapa dulu banyak pihak yang merasa perlu urun komentar.

Menikah dengan seorang raja tentunya bukanlah hal yang mudah.  Apalagi sebagai perempuan non Jawa, tentunya   punya pandangan dan sikap yang berbeda dengan istri-istri lain yang memang berasal dari Jawa.  Seperti yang tercantum di halaman 1980199, "Tentu tidak semudah mengatakannya. Mereka tidak mungkin tidak menganggap saya sebagai raja, sebagai junjungan mereka."

Misalnya tentang sapaan yang dipergunakan  Norma untuk  Sri Sultan HB IX, Wonosan. Wonosan berasal dari kata Wono yang berarti raja dalam  bahasa Jepang dan san, kata tambahan yang sering diucapkan ketika menyebutkan nama seseorang. Tentunya tak ada yang berani melakukan hal seperti itu selain Norma. Ia juga satu-satunya istri yang menyandang nama Sri Sultan Hamengku Bowono IX di belakang namanya. Justru itu  (menurut saya) yang membuat Sri Sultan HB IX jatuh hati.

Bahkan di halaman  199  terdapat dialog yang  menunjukkan bahwa Sri Sultan HB IX mendapatkan kasih sayang istri secara utuh dari Norma. Bukan berarrti istri yang lain tidak menghormati, namun  bagaimana sudah disebutkan di atas, bagaimana juga beliau adalah raja. "Akulah istri satu-satunya...., tetapi karena hanya akulah yang menganggap Wonosan sebagai suami, bukan sebagai raja. Bisa jadi itu karena aku bukan orang Jawa." Sungguh manusiawi.

Pada suatu bagian, saya menemukan tulisan mengenai Norma yang melakukan cium pipa kanan-kiri dengan Sri Sultan HB IX padahal mereka belum menikah. Mata saya langsung melotot, makin melebar ketika ada beberapa adegan yang menjurus ke arah mesra diuraikan dalam buku ini. 

Baiklah, sekarang saya paham sekali, kenapa Sri Sultan HB IX bisa jatuh cinta kepada sosok seorang perempuan dari Bangka bernama Norma! Entah, apakah ada orang lain yang berani mengajukan syarat ketika seorang raja mengajaknya menikah.
http://www.wapresri.go.id/

Melalui buku ini, saya bisa mengetahui banyak hal dari sisi  Sri Sultan HB IX yang tak banyak dikabarkan. Dalam buku ini digambarkan sebagai sosok yang sedikit bicaram namun jika sudah bicara, maka yang terucap adalah kata-kata penuh makna. Misalnya saja kalimat yang ada di halaman 105, "Jika Norma mengetahui dan mampu bersikap ketika berada di mana, sebagai apa, dan untuk apa, itu yang akan menjadi ukuran apakah kita memenuhi panggilan tugas atau justru hanya menyodor-nyodorkan diri."

Sebagai orang yang diangkat anak dan menjadi orang selalu membantu Bung Karno, tentunya banyak hal terkait situasi dan kondisi negara ini yang ia ketahui dengan benar.  Lalu apakah uraian perihal keterlibatan CIA dalam pemberontakan PRRI/Permesta pada Maret 1957, Freeport di halaman 151 yang mampu membuat mata melotot, serta Dewi Soekarno yang dibekali setengah kilogram emas sisa pembuatan tugu Monas di halaman 98, adalah benar? Jelas saya tak bisa menjawabnya.

Beberapa kali perihal Ibu Inggit yang meminta dikembalikan ke Bandung dari pada harus memiliki madu disinggung. Terlihat sekali betapa seorang Norma sangat menghormati dan menghargai apa yang telah dilakukan oleh seorang Inggit  bagi tanah air tercinta ini. 

Buku yang menarik. Sudah  lebih seminggu saya selesai membacanya. mau membuat ulasan sekedarnya, agak ragu (ok baiklah takut). Dibesarkan dengan adat Jawa, membuat saya sungkan memberikan komentar mengenai kehidupan kerabat dalam. Apalagi ini!

Secara sukses penulis membuat saya melihat dari sisi yang berbeda. Bagaimana juga, beliau tetaplah seorang manusia, seorang pria, seorang suami. Kadang, kita melupakan unsur "manusiawi" dari sosok yang begitu kita hormati. 


Satu kalimat yang menarik dari buku Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Peringatan 40 Tahun. Pada halaman 10 tertulis, "Meskipun saya mengalami pendidikan yang tegas-tegas bercorak Barat, tapi saya in Jawa, dan bagaimanapun saya tetap Jawa." Hal ini ditunjukkan dengan kebulatan tekat beliau membantu perjuangan kemerdekaan.

Bahkan dalam buku Tahta Untuk Rakyat, terlihat bagaimana besar bantuan yang beliau berikan. Tidak hanya adalam bentuk fisik namun juga materi. Bukan hanya bagi pergerakan perjuangan, namun juga terhadap keluarga pemimpin pergerakan. Sungguh jiwa seorang raja.

Sekedar usul, jika buku ini dicetak ulang, mungkin penulis bisa menambah bagian yang menunjukkan bagaimana keindahan istana yang dibangun khusus untuk Norma di Bogor. Supaya membuat kisah ini lebih hidup lagi.

Buku yang unik.