Senin, 29 Mei 2017





"Kecerdasan sejati adalah menyadari dan mengenali bukan apa yang kita ketahui ... tapi apa yang tidak kita ketahui...." (hlm. 458) 

Petualangan final tiga anak keluarga Walker diwarnai dengan bencana besar yang mengancam keberlangsungan dunia. Di dunia buku, Penyihir Angin mengumpulkan seluruh sekutu jahatnya untuk bersiap-siap menyeberang ke dunia nyata dengan tujuan untuk menguasainya. Padahal, di saat yang sama, tabir pembatas antara Bumi dengan dunia buku ciptaan Denver Kristoff semakin melemah, terutama dengan tewasnya sang Raja Badai di tangan anak perempuannya sendiri, Penyihir Angin. Cordelia, Brendan, dan Eleanor Walker sebagai satu-satunya tiga pahlawan yang bisa menyelamatkan dunia malah terjebak dalam masalah lain yang tak kalah pelik. Kebiasaan judi sang ayah telah menjadikan keluarga Walker miskin sehingga mereka terpaksa pindah ke sebuah apartemen mungil yang bobrok. Satu masalah belum selesai, muncul masalah lain. Makhluk-makluk ajaib yang selama ini hanya ada dalam buku-buku Kristoff mendadak muncul di dunia nyata. Fat Jagger sang gergasi baik hati muncul di teluk dekat San Fransico, sementara sesosok manusia salju menyeramkan juga dilaporkan dalam sebuah siaran berita di TV. 

"Aku ingin menolong orang-orang. Artinya, aku hanya ingin berbuat benar ketika berbuat benar itu penting." (hlm. 304)

Masalah rumah bisa diabaikan sejenak. Nasib dan keselamatan dunia harus diutamakan. Untuk mencari tahu cara mengembalikan Fat Jagger ke dunia buku, ketiga anak Walker harus memutar otak sampai akhirnya mereka sepakat untuk membangkitkan kembali Raja Badai yang telah tewas. Brendan yang ternyata memiliki ingatan kuat mendapatkan kehormatan untuk menjalankan tugas berbahaya ini. Cowok ini kebetulan masih ingat mantra pembangkitan yang dirapalkan para penyihir saat membangkitkan arwah para penjaga hikayat. Anda para pembaca yang sudah menyimak sepak terjang bocah kocak ini di buku pertama dan kedua pasti bisa menebak hasilnya. Tidak hanya membangkitkan Raja Badai (yah dia memang berhasil sih), dia juga membangkitkan seluruh mayat yang ada di kuburan besar di pinggiran San Francisco. Satu lagi masalah yang muncul: serangan zombie-zombie haus darah eh haus otak yang berkeliaran di makam.

"Cinta membutuhkan pengorbanan, kerelaan menyerahkan sepotong kebahagiaan dan kesejahteraanmu sendiri untuk meningkatkan kehidupan yang lain." (hlm. 455)

Sementara Cordelia dan Eleanor juga tidak begitu beruntung. Eleanor memang berhasil memanggil Fat Jagger, tetapi kini mereka dikejar-kejar sepasukan Garda Nasional Amerika yang menganggap keberadaan raksasa baik itu sebagai ancaman. Saat menyelamatkan Brendan dari amukan zombie, keduanya juga menyadari kalau Brendan sudah digigit dan terinfeksi. Bocah itu sebentar lagi akan menjadi zombie. Sama seperti di buku-buku sebelumnya, ketika semua jalan terasa buntu dan masalah semakin memburuk, anak-anak Walker hanya bisa berlindung di balik keangkeran rumah Denver Kristoff. Kali ini, rumah itu kembali menyediakan jawabannya (yang--seperti biasanya--tidak mudah untuk dilakukan). Atas petunjuk arwah Raja Badai, ketiga bersaudara Walker harus masuk kembali ke dunia buku. Selain untuk menyelamatkan Brendan, mereka harus bertualang kembali untuk mendapatkan tiga Penjaga Dunia. Tiga benda magis inilah yang akan mencegah tabrakan antara dunia kenyataan dengan dunia dalam buku-buku karya Kristoff. 

"Kepahlawanan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Sifat itu sudah ada di dalam diri kita. Dan, itu baru berarti selama kita tetap menjadi diri sendiri." (hlm. 458)

Sekali lagi, Cordelia, Brendan, dan Eleanor Walker harus melakukan perjalanan ajaib di dunia buku. Petualangan mereka beragam, dari era Wild Wild West hingga ke pulau ganjil dengan tumbuhan berwarna-warni. Musuh-musuh yang dihadapi pun tidak kalah berbahaya. Awalnya, mereka harus berhadapan dengan sherif picik berpikiran sempit, alien yang entah kawan atau lawan, serta mahkluk cantik dari Atlantis. Membaca dan menikmati petualangan ketiga anak Walker ini ibarat menyaksikan sebuah film petualangan anak-anak yang seru. Dengan kalimat sederhana, ini adalah novel yang sangat filmis. Ide penggabungan antara buku dan film ini sedikit disinggung pada halaman 298. Untuk rangka cerita secara garis besar, fokus buku ketiga ini lebih pada memasukkan sebanyak mungkin adegan aksi dalam cerita sehingga tak terlalu mempermasalahkan pilihan kata. Kisahnya pun bergerak cepat, kejar mengejar dari satu petualangan ke petualangan lainnya. Beberapa adegan di dalamnya mungkin sedikit mengingatkan kita pada film Jumanji dan Up! yang dipadukan dengan Shark Boy dan The Myterious Island sebelum berujung pada ending yang lumayan klise tetapi tetap enak dinikmati.

"Mereka keluargamu. Ikatan di antara kalian sangat dalam. Jauh lebih dalam daripada sihir atau buku kuno." (hlm. 454)

Jika ada yang dikritisi, mungkin sampulnya. Sampul buku versi bahasa Indonesia ini kurang menggambarkan apa yang terjadi di dalam buku. Di cerita, ketiga Walker bersaudara terbang dengan balon hidrogen besar yang tersembunyi di salah satu bagian rumah Kristoff. Jadi, seperti di film Up!, rumah itu ikut terbang. Sementara di sampul buku ini digambarkan ketiga anak itu terbang dengan keranjang balon udara. Tapi, model sampul karya Vinsen yang macam ilustrasi begini selalu kena banget bagusnya. Hal lain mungkin alur ceritanya yang melompat-lompat terlalu cepat: dari dunia nyata lalu ke Wild West, lalu ke pulau ajaib, lalu ke tempat-tempat lain. Begini, seolah petualangan di satu lokasi cepat-cepat dirampungkan karena sudah ada petualangan lain yang menunggu di lokasi lain. Ini benar-benar seperti kita sedang menonton film. Ya, teknik berkisah cepat seperti ini ok ok saja sih sebagai bentuk variasi dalam story telling, tapi mungkin karena saya terbiasa baca novel yang deskripsinya detail banget jadinya serasa kurang puas saja sih. Misalnya, saat anak-anak ini ada di Atlantis, sayang sekali deskripsinya hanya seperti sepintas lalu. Selebihnya, novel ini adalah tentang kepahlawanan, pengorbanan, bertumbuh dewasa, kesetiaan pada nilai-nilai keluarga dengan ending yang menyenangkan.

Tentang terjemahannya? Seperti biasa, hasil terjemahan Mbak Lulu Fitri Rajman selalu keren, idola akuh pokoknya

Kamis, 25 Mei 2017

2017#36: Sepenggal Kisah Tentang Kartini



Penulis: Abidah El Khalieqy
Editor: Teguh Afandi
ISBN: 978-602-385-280-2
Halaman:368
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Qanita
Rating: 4


Membacalah, Ni. Karena kebebasan pikiranmu ada di sana. Dan siapa pun tak akan bisa menjajah pikiranmu. Aku ingin  dengar  kabar baik darimu, sebelum aku berangkat ke Belanda.
~Kartini, hal 80~

Jadi apa sebenarnya yang menjadi penyebab kematian Kartini? Kehabisan darah karena melahirkan seperti penjelasan yang sering saya temui dalam buku pelajaran sejak dulu. Atau dibuat diam selamanya melalui minuman  yang dibawa oleh Dokter Ravesteyn karena sepak terjangnya dianggap mampu membahayakan  keberadaan Belanda di tanah air?

Mungkin terdengar terlalu ekstrim, tapi begitulah yang saya rasakan ketika selesai membaca buku ini. Cara penulis bercerita mampu membuat perasaan saya bercampur aduk. Seakan saya berada di dekat mereka bertiga. Penulis dengan sukses membuat hati saya seakan iklan permen tersohor itu. Kadang  ikut merasa bahagia seperti ketika Kartini mendapat kesempatan menuliskan pikirannya dalam sebuah artikel. Marah karena tidak mendapat izin untuk belajar. Berulang kali meneteskan air mata haru ketika membaca adegan yang ada di halaman 362.

Jika berharap akan menemukan penggalan isi surat-surat yang ditulis Kartini kepada para sahabat penanya pada buku ini, maka bersiap-siaplah kecewa. Buku ini lebih menyoroti bagaimana sikap Kartini dalam menjalani kehidupan ini. Tegar dengan prinsipnya namun tetap memegang teguh sopan santun sesuai dengan tatanan kehidupan priayi Jawa. Memang ada bagian yang mengisahkan Kartini sedang menuliskan surat bagi sahabatnya tapi porsinya kecil.

Sejak kecil, Kartini memang sudah berbeda dibandingkan dengan saudara yang lainnya. Nilainya selalu bagus, kecerdasanya mampu membuat kakak laki-lakinya mati kutu. Sikap hormat pada ibu kandungnya yang harus dipanggil Yu juga ditunjukan dengan berani. 

Keberadaan Kartini ternyata mulai membuat cemas pihak penjajah. Hal itu bisa dilihat dari ungkapan salah seorang pembesar Belanda pada halaman 3, "Dia hanya perempuan belia, lulusan sekolah dasar Europese Lagare School, priayi pingitan, bagaimana mungkin memiliki perspektif tentang dunia begitu jauh, mengalahkan pemikir Eropa dan menghentakkan kesadaran Sri Ratu. Aku tak bisa mengerti!"

Saat memasuki masa pingitan, Kartini dan kedua adiknya memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. "Tubuh kita boleh saja dikurung tatanan, tapi kita harus berdaulat atas imajinasi kita." Banyak karya yang mereka hasilkan. Tulisan Kartini melalui media setempat dengan mempergunakan nama samaran dibaca banyak orang. Lukisan Srikandi membawa panah dan buku yang dibuat Kardinah membuktikan keinginannya untuk belajar. Sementara Rukmini berjuang melalui kelincahan tangannya membatiknya.

Begitu populernya Kartini sehinga pihak Belanda mau melakukan pertukaran antara antara ide dan hasil karya Kartini dengan jaminan agar kedua kakak laki-lakinya bisa memiliki jabatan yang lumayan. Tanpa campur tangan Kartini maka keduanya harus melupakan impian menjabat pejabat. Hal tersebut semakin membuat rasa sakit hati keduanya.

Perjumpaan Kartini dengan Kiai  Sholeh membuat pikirannya lebih terbuka. Usulnya agar sang kiai menerjemahkan Al-Quran dan menjadikannya sebuah buku.  Dengan demikian makin banyak yang tahu apa makan dari ayat yang mereka  baca. Dahulu Kartini pernah bertanya pada guru mengajinya mana sebuah ayat, bukannya mendapat penjelasan ia justru mendapat omelan. Yang penting bisa membaca. Artinya tak perlu. Sudah jangan cerewet, kurang lebih begitu kata guru mengajinya di halaman 80.  
Sumber: Wikipedia

Ide yang berhasil diwujudkan oleh Kiai Sholeh merupakan hadiah pernikahan terbaik yang Kartini terima. Sementara bagi saya, tanpa ide Kartini mungkin saya hanya bisa membaca sementara untuk bisa meresapi maknanya harus ada guru pendamping  

Banyak hal yang baru bagi saya saat membaca buku ini. Maafkan ketidaktahuan saya. Misalnya, saya baru paham bahwa Rukmini dan Kartini beda ibu. Versi dalam buku ini menyebutkan bahwa kecintaan ayah Kartini pada ibu kandungnya lebih besar dibandingkan dengan permaisurinya. Dan sang ibu tiri selalu bersikap bermusuhan dengan Kartini serta ibunya. Beda dengan film Kartini versi lawas yang dulu saya tonton.

Meski keluarga Kartini dikenal dengan keterbukaannya akan pendidikan setara antara anak laki-laki dan perempuan,  namun ada saatnya mereka harus patuh  pada tekanan sekitar. Pendangan dan tindakan mereka membuat pejabat sekitar merasa ngeri sehingga bersatu untuk menunjukan rasa ketidaksukaan pada keinginan belajar Kartini.

Seperti yang diuraikan pada halaman 138. "Kalau kita nuruti permintaan perempuan untuk sekolah tinggi, nanti mereka ngelunjak minta jadi bupati. Lama-lama orang miskin ikut-ikutan. Nanti jangan-jangan muncul zaman anak tukang kayu jadi pembesar negara! Ngawur itu! 


Saya sempat berkata dalam hati setelah membaca buku ini. Sebagai sosok seorang perempuan Jawa berdarah biru, apa yang dikerjakan Kartini sungguh berani. Ia dengan pandainya membuat orang sekitar mengabulkan keinginannya. Sungguh cerdik.  Ia sangat tahu bagaimana harus bersikap dan bertindak.

Perjuangan Kartini dan adik-adiknya untuk memajukan pendidikan kaum wanita tak terbatas hanya di Jepara saja. Bahkan meski Kartini sudah meninggal namun idenya tetap menyebar. Dalam buku Kartini Tiga Saudara buah karya Ibu Kardinah Rekso Negoro, pada hal 32 tertulis bahwa ibu Dewi Sartika dan adiknya Sari Pamerat  pernah tinggal selama 4 bulan untuk menimba ilmu dan ikut mengajar di sekolah yang didirikan oleh salah satu dari ketiganya.


Akhir kisah yang berujung bahagia membuat pembaca akan merasa menemukan jarum diantara jerami. Sosok suami Kartini dalan buku ini merupakan sosok yang bertolak belakang dengan para pembesar Jawa lainnya. Andai Kartini berumur panjang, anak keturunan mereka pasti menjadi pejuang pendidikan yang tak kalah hebat.


Dahulu Kartini, biasa dipanggil Trinil berjuang melalui pena. Kardinah alias Klientje melalui lukisannya menyuarakan perjuangan perempuan. Rumini atau Bikmi dengan kelenturan tangannya membatik berupaya memajukan harkat perempuan. Berkat mereka, sekarang banyak perempuan di tanah air yang dengan bangga mengatakan karena aku lahir sebagai perempuan. Sungguh beda dengan makna yang ada di halaman 65. 

Ini buku tentang Kartini terbaik yang pernah saya baca. Buku ini menyebutkan bahwa jasad Kartini berbau melati, harum. Jadi ingin mendengarkan lagu Ibu Kita Kartini.

-------------

Curcol sedikit

Belum lama ini saya bertugas melakukan pembelian buku guna pengembangan koleksi kantor ke Yogyakarta. Mumpung di sana sekalian janjian dengan Dion dan Desca juga beberapa teman lainnya.

Namanya mendadak, pastilah tidak 100% persiapan matang, salah satunya adalah lupa membawa helm untuk keliling kota. Desca berinisatif meminjam helm pak petugas keamanan hotel. Helm diberikan dengan syarat harus kembali sebelum jam 23.00 WIB dan ada KTP sebagai jaminan. Mudah bukan? Segera saya serahkan KTP  dan mengambil helm dari pak petugas.

Jam 22.50 saya kembali ke hotel dan bergegas mencari pak petugas keamanan pemilik helm sambil menyiapkan sekedar uang terima kasih. Begitu sampai ke kantor keamanan dengan sopan saya sebutkan bahwa saya mau mengembalikan helm dan mengambil KTP.

Selanjutnya yang terjadi membuat saya terkejut!
Sekitar dua atau tiga orang bapak petugas yang tadinya duduk santai segera berdiri dan memberikan bungkukan badan tanda hormat. Pemilik helm langsung menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih. Lah jelas saya yang bingung, bukannya seharusnya saya yang berterima kasih? KTP saya dikembalikan dengan sikap sangat hormat layaknya  seorang marketing menyerahkan kartu nama pada calon pembeli potensial. Uang yang saya berikan diterima dengan mata berbinar sambil mengucapkan terima kasih tak terhingga. Saya dikawal menuju lift yang jaraknya hanya sekian meter dari tempat kantor keamanan.

Sepanjang perjalanan menuju kamar, saya tak bisa berhenti berpikir kenapa mereka bersikap agak aneh. Saat menunggu lift,  saya  teringat untuk masukkan KTP  ke dompet. Dan..., saya jadi tahu kenapa mereka bersikap begitu he he he. Pasti karena nama saya. Ribet memang,  tapi mau bagaimana mana lagi itu nama pemberian orang tua saya. Makanya saya sangat paham jika Kartini ingin diperlakukan seperti manusia biasa tanpa aneka macam protokoler.








2016 #37-41: Liburan Bersama Eyang Djoko Lelono

Ada yang belum tahu Eyang Djoko Lelono?
Baiklah jika banyak yang tahu maka bisa dikatakan usia kita nyaris sama. Minimal pernah menikmati buku hasil alih bahasa eyang yang satu ini. Pika belum silahkan cari info tentang beliau melalui dunia maya. Mudah sekali kok.

Ceritanya suatu hari saya posting salah satu buku karangan eyang yang ada dalam koleksi kantor. Iseng, jawil si penulis. Ternyata eyang langsung memesan dibuatkan duplikat buku itu. Sebenarnya saya paling pantang untuk menggandakan buku, namun karena alasannya untuk arsip pribadi serta yang meminta adalah penulisnya maka dengan berat hati mengabulkan permintaan tersebut.


Ternyata si eyang kehilangan banyak arsip karyanya. Beberapa bisa ditemukan lagi melalui lapak buku ol yang bersliweran. Kadang jika ada yang melihat langsung memberitahukan pada eyang. Siapa tahu buku itu belum ada dalam arsipnya. Namun masih banyak karyanya yang belum terlacak.


Tak terduga! Kiriman saya dibalas dengan beberapa buku dengan sentuhan eyang. Ada yang memang ditulis oleh eyang. Ada juga yang melalui proses alih bahasa oleh eyang. Langsung kejar tayang nih *ketawa bahagia* niatnya begitu. Ternyata baru kesampaian sekarang. Langsung hajar he he he.



Ensikoplakpedia
Ilustrasi: M. Isnaeni
Penyunting: Yulia Nurul Irawan
ISBN: 978602242787292
Cetakan: I-2015
Halaman: 92
Penerbit: Pastel Books

Membaca tulisan tangan eyang yang menyebutkan bahwa ini buku yang paling koplak, saya langsung tertarik. Baiklah, kalau melihat ketebalan dan gayanya ini merupakan buku yang dinikmati  sebagai hiburan.


Terbagi dalam 3 bagian, mulai dari Asal-usul  Usil Asal-asalan, Bumi makin Unyu serta Kata-kata Mutiara. Terdapat 36 uraian pada Asal-usul  Usil Asal-asalan, termasuk  plesetan tentang nama Bekasi, Solo, Ragunan, mobil Datsun serta Bulan Madu.  Bagian Bumi Makin Unyu  tak kalah seru. Ada 16 bagian plus bonus knock-knock sebanyak delapan kisah lucu. Bagian ini menyuguhkan plesetan lucu ala abg.


Tiap bagian diakhiri dengan tulisan putih  Usil! dalam balon warna merah. Salah satu kalimat yangbisa bikin ketawa adalah, "To keep your marriage brimming with love in the loving cup. Whenever you're wrong admit it. Whenever you're right shut up."


Kata-kata mutiara  yang adajuga ditulis dengan gaya dan ilustrasi yang unik. Misalnya, "It is better to kiss a miss that to miss a kiss." 


Sungguh buku yang bisa buat ngakak tingkat tinggi


Alice's Adventures in Wonderland
ISBN: 9786020324791
Halaman: 144
Penerbit: Gramedia

Kisah Alice memang sudah cukup dikenal masyarakat. Baik dalam bentuk buku maupun layar lebar.  Entah berapa macam versi terjemahan yang sudah beredar di tanah air. Pastinya lebih mudah menemukan buku Alice dari pada LW.


Sebagai kolektor Alice bahasa lokal, entah kenapa kok ya rasanya segan saja membeli buku ini. Mungkin karena merasa buku ini untuk dikoleksi jadi tidak perlu buru-buru dibeli hi hi hi. Nunggu obralan.

Ternyata malah dapat dari tukang alih bahasanya.

Dibandingkan terbitan tetangga, buku ini lebih mudah dipahami. Mungkin karena sang tukang alih bahasa sudah terbiasa menggarap buku anak sehingga lebih fasih memilih kata yang pas.

Penjelajah Antariksa 6
Penyunting: Yessy Sinubulan
ISBN 9786024240639
Halaman: 180
Cetakan: Pertama-Juni 2016
Penerbit: Gramedia 

Seri Penjelajah Angkasa bisa dikatakan buku yang paling canggih kala pertama kali terbit. Eyang yang satu ini memang paling bisa memanjakan pembacanya. Seingat saya dahulu hanya ada empat buku yang terbit. Belakangan seri ini dicetk slang plus menambah beberapa jilid lagi.

Buku ini berisikan antara lain tentang Perjalanan Panjang Malam, Radiasi Sinar RHO-M, Perisapan, Komet Biru dan Akhir.  Selanjutnya diakhiri dengan uraian mengenai sosok penulis. Menggoda bukan pilhan judul bagiannya?

Jadi membayangkan, kalau buku ini dibuat film, pasti seru. Lebih seru dari pada film anak ala robot yang diputar oleh sebuah stasiun televisi swasta. Unsur petualangan dipadu dengan ilmu pengetahuan membuat kisah dalam seri ini menjadi unik. 

Hilangnya Ayam Bertelur Emas
Halaman: 64
Cetakan: Pertama-1977
Penerbit:Pustaka Jaya
Membaca catatan yang diberikan penulis bahwa buku ini cukup membingungkan waktu mengarangnya, saya seakan tertantang untuk mampu menuntaskan dan memahami buku ini.

Ternyata sesuai dengan catatan penulis, lumayan bingung membaca kisah ini. Dalam kisah ini pembaca seakan menemukan beberapa kisah yang diceritakan kembali secara bersamaan.  Ada kisah  Jack Si Kacang Ajaib, Ali Baba dan Karpet Terbang, dan kisah tentang anak yang bisa berlari dengan sepatu cepat (saya lupa judul aslinya). Kisah-kisah tersebut saling berbaur  membentuk sebuah kisah baru.

Dengan begitu banyak tokoh dan peristiwa, memang membuat kisah dalam buku ini menjadi sesuatu yang berbeda. Tapi sungguh, juga menjadikan kisah rumit untuk dipahami. Saya membutuhkan waktu lumayan lama untuk bisa mencerna kisah ini.

Diantara karya eyang, mungkin buku ini yang  saya anggap paling tidak ok. Hiks.

Jungle Book
Karya:Rudyard Kipling
ISBN:9786020328294
Halaman:224
Cetakan: Pertama-Mei 2016
Penerbit: Gramedia

Saat kecil, saya begitu terpesona dengan sebuah film kartun tentang seorang anak laki-laki bernama Mowgli yang bersahabat dengan aneka binatang. Ada serigala, beruang, gajah dan mash banyak lagi. Kehidupan mereka sepertinya sangat menggembirakan. Walau pada akhirnya sang anak laki-laki mengikuti nalurinya untuk kembali ke kehidupan masyarakat setelah melihat seorang gadis mengambil air di sungai yang berada di dekat hutan tempat tinggalnya. Saya masih ingat  dahulu untuk melihatnya saya harus minta orang lebih tua memutar melalui video (ketahuan deh usianya he he he)

Kisah yang saya lihat mungkin hanya penggalan dari keseluruhan kisah Jungle Book tapi sudah mampu membuat seorang anak terpesona. Bayangkan bagaimana jika saat itu saya menonton versi layar lebarnya. Bisa diulang berkail-kali mungkin saat itu juga.

Saya baru sadar, saya sudah pernah membaca buku ini tahun 2016. brgiulah kalau terlalu banyak yang dibaca jadi lupa.  Punya dua sepertinya, harus bongkar lemarinih.


Terdampar di Pulau Candu
Halaman:60
Cetakan: Ketiga-1977
Penerbit: Pustaka Jaya

Namanya buku anak, pesan moral buku ini terasa sekali muncul pada bagian akhir  cerita. Tapi kejagoan sang yang terlihat dari caranya menyampaikan kisah. Pesan moral yang ada dikemas dengan apik sehingga tak ada kesan menggurui atau sok tahu saat membaca kisahnya. Pesan moral dalam buku ini adalah perihal obat terlarang dan bahayanya.

Membaca kisah ini membuat saya berpikir, betapa jauh berbedanya kehidupan anak zaman dahulu dengan sekarang. Dahulu segala sessuata lebih sederhana dan indah dilihat dari kaca mata seorang anak. Liburan tak harus mahal, ikut berlayar bersama  orang tua sambil membantu sudah sangat menggembirakan.

Sepertinya anak-anak itu mampu menemukan banyak hal untuk menjadikan liburan mereka menyenangkan. Mereka bisa merancang kegiatan yang menggembirakan ala mereja tampa bantuan orang tua. Tugas orang tua hanya memberikan fasilitas sesuai kemampuan dan mengawasi saja.

Hari libur yang saya habiskan dengan membaca karya eyang yang satu ini justru membuat saya merasa sedih. Ternyata, sudah sangat jarang buku bagus untuk anak dan remaja yang beredar. Kalau pun ada buku seputar remaja isinya lebih pada urusan percintaan. Tak salah memang memperkenalkan urusan cinta tapi  lakukan dengan bijak.

Saya kembali teringat pembicaraan dengan beberapa sahabat seputar kisah yang katanya sudah dibaca ribuan kali melalui salah satu aplikasi (atau apalah namanya). Satu kisah yang mengandung urusan ++ ternyata ditulis oleh anak usia belia. Jadi pertanyaan kami, bagaimana ia bisa menguraikan tentang urusan ML dengan fasih jika usianya masih belia. Khayalan terlalu tinggi akibat tontonan dan bacaan yang seharusnya belum boleh ia konsumsi. Atau (semoga bukan) sudah berpengalaman melakukannya.

Ah, jadi rindu saat memasang tenda di halaman rumah untuk bergaya ala Lima Sekawan. Tidur di sana dan sarapan nasi goreng yang dimasak melalui kompor minyak tanah di samping tenda. Sederhana ya bahagia ala saya saat masih kecil.

Semangat eyang!
Ditunggu buku barunya.


Selasa, 23 Mei 2017

2017#35: Kisah Meinar Si Bakul Jamu dan Mandor Sanyoto


Judul asli: Candik Ayu Segaramadu
Penulis: Andri Saptono
Penyunting: Avifah Ve
ISBN: 9786026115911
Halaman: 192
Cetakan: Pertama- April 2017
Penerbit: Senja
Harga: Rp 45.000
Rating: 2.75

Candik ayu-siluet senja, mengisahkan tentang kisah kehidupan  pekerja di pabrik gula dan bagaimana   aktivitas mereka bersinggungan pada banyak hal. Termasuk keberadaan perempuan-perempuan bakul jamu yang sering mendapat cap negatif dari masyarakat.

Sebagai seorang lulusan SMEA ternyata mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah  bagi Meinar. Setelah mencoba mencari tanpa kenal lelah akhirnya ia menjadi bakul jamu. Pilihan menjadi bakul jamu merupakan hal terakhir yang bisa ia lakukan. Bakul jamu yang dimaksud bukanlah jamu ala beras kencur, cabe puyang dan sejenisnya namun suplemen, obat kuat, minuman berenergi dan buah jeruk. Penjualnya tak jarang sengaja berpakaian seronok. Umumnya para pembeli adalah pekerja di pabrik gula. 

Meinar harus pandai menjaga diri dari tangan iseng para lelaki, dampratan pemilik warung makan yang merasa ia adalah saingannya dan pandangan rendah orang lain akan profesinya.  Meskipun berbeda, tapi mau tak mau ia juga harus ikut terkena dampak pandangan miring pada usahanya mencari uang. Jika bukan demi anak semata wayangnya, mungkin ia sudah menyerah ketika mendapat pengalaman buruk dengan salah seorang pekerja.

Dalam perjalanan hidup Meinar, kembali ia ditemukan dengan seseorang dari masa lalunya. Mandor Sanyoto memang sudah menikah tapi siapa yang bisa memendamkan rasa lama yang mendadak muncul tanpa diundang? Dilema melanda Mandor Sanyoto. Ada istri, jabatan dan tanggapan orang akan profesi Meinar. Tapi ada rasa ingin melindungi dan kasih tak sampai yang selalu mengusik ketika ia memandang wajah Meinar.

Lumayan menghibur kisah ini. Pembaca tidak saja disuguhi kisah mengenai bagaimana Mandor Sanyoto dan Meinar berurusan dengan perasaan mereka masing-masing, tapi juga bagaimana kehidupan sosial para pekerja pabrik gula.


Namun ada beberapa hal yang membuat saya bingung. Misalnya mengenai sosok yang bernama Tumini alias Tum. Sebagai orang yang tak memiliki cukup uang, ternyata ada Tum yang menjaga anak Meinar. Mungkin saya tidak membaca dengan teliti tapi saya seingat tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa sejak berpisah Meinar tinggal bertiga bersama kerabat. Jika demikian maka artinya Tum dibayar untuk menjaga anak Meinar. Cukup seimbangkah pendapatan menjadi pedagang jamu dengan pengeluaran untuk membayar Tum? Bukan saya merendahkan profesi seseorang, tapi secara hitungan ekonomi apakah sesuai? Kenapa tidak membuat Tum sebagai saudara sebatang kara yang rela ikut merawat anak Meinar sehingga kisahnya lebih pas.

Apa maksud peristiwa tertinggalnya dompet  Mami Rina di rumah Meinar? Untuk membuktikan bahwa ia orang jujur karena berniat sore hari mengembalikan dompet tersebut ?  Atau sekedar untuk menjadikan alasan agar ada komunikasi selain urusan dagang antara keduanya? Jika tak ada gunanya untuk apa ada dalam kisah?

Saya kurang paham kalimat berikut, "Kamu kan sudah gajian, lalu kamu apakan uang gajimu itu?" tanya Masinis Bambang itu pada   Sugiman yang memang memberikan uang itu pada sugiman, tapi tampaknya harus dengan  diblejeti  Masinis Bambag itu dulu. Apakah tidak bisa dicari kalimat yang lebih tepat agar sesuai makna yang ingin disampaikan

Bagaimana kelanjutan urusan salah seorang pekerja yang bersikap tidak sopan pada Meinar sehingga menimbulkan keributan? Hanya untuk dijadikan bagian guna menunjukkan bahwa Mandor Sanyoto memperhatikan Meinar semata? Bagiannya menguap begitu saja. Kenapa tidak diolah sehingga menjadi bagian yang lebih menarik? Misalnya ia dikeluarkan dari pabrik lalu membalas dendam pada Mandor Sanyoto dengan cara mencuri beberapa peralatan pabrik sehingga Mandor Sanyoto disalahkan. Atau hal lainnya. Sebagai penulis, tentunya Andri Saptono lebih kreatif dari pada saya

Banyak istilah dalam bahasa Jawa yang tidak diberikan keterangannya. Bagi pembaca yang tidak mengerti maknanya, mereka tidak bisa menangkap apa yang dimaksud oleh penulis. tentunya hal ini akan membuat pembaca di daerah Padang misalnya tidak bisa menikmati kisah ini dengan maksimal

Sebagai orang yang tak paham hirarki jabatan pekerja pabrik gula, saya tak paham apa tugas dan kewajiban mandor serta masinis. Kenapa sosok masinis dalam kisah ini digambarkan sebagai orang yang memiliki lumayan banyak uang dibandingkan yang lain. Ucapannya bagaikan sabda yang tak terbantahkan. Apa perlunya mengisahkan perjalanan hidup Masinis Bambang panjang lebar? Lumayan juga dari halaman 139 hingga 145. 
https://www.facebook.com

Kenapa  penulis bisa mengajukan proposal agar produsen minuman kesehatan mau mencantumkan produknya  dalam kisah ini dengan imbalan sejumlah uang. Dari pada menyebutkan merek secara langsung seperti yang ada di halaman 134 tanpa mendapat imbalan apa-apa, kenapa tidak memanfaatkan sebagai salah satu cara mendapatkan keuntungan lebih. Cara ini sudah sering kita lihat dalam berbagai tayangan sinetron dan film layat lebar.

Sepertinya penulis sudah terkena kecenderungan latah yang sering terjadi dalam masyarakat. Menyebut pembalut wanita dengan So***x (mereknya), menyebut pasta gigi dengan Pep****nt. Tanpa menyebut merek, bisa saja  dagangan Meinar disebut sebagai minuman kesehatan saja. 

Awalnya orang tidak akan mengira jika buku ini adalah novel jika melihat kover yang dibuat berkesan batik. Dengan gaya penulisan huruf yang tak biasa, buku ini terlihat sekali mengusung nuansa Jawa. Meski harus saya akui soal isi, saya selalu tak mampu memahami pilihan para juri di Dewan Kesenian di mana pun.

Ide cerita dalam buku ini unik. Hanya saja menurut saya sebagai pembaca,  penulis masih terlampau datar mengeksekusi ide. Sayang sekali ide kisah yang menawan ini tidak digarap dengan lebih dalam. Ada beberapa hal yang masih bisa dikembangkan sehingga menghasilkan greget lebih. 

Ditambah dengan latar belakang penulis sebagai mantan pekerja di pabrik gula, tentunya sangat paham banyak hal terkait situasi dan kondisi di sana. Maka kisah dalam 192 halaman ini bisa saja berkembang menjadi 300 halaman lebih jika diolah dengan lebih seksama. 

Meski demikian, melalui buku ini saya memperoleh tambahan pengetahuan mengenai bagaimana proses pembuatan gula. Mulai dari batang tebu hingga seperti yang dipergunakan sehari-hari. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Lalu Segaramadu itu apa?
Baca saja sendiri ya biar lebih paham he he he.
Biar makin penasaran, nonton ini yuk