Jumat, 13 September 2013

Kisah Tak Sampai Seorang Samurai

 
Penulis: Mitsugu Saotome
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penyunting: Fenty Nadia Lubis
Pemeriksa Aksara: Diksi Dik
Pewajah Isi: Eri Ambardi
ISBN: 978-979-024-405-4
Halaman: 596
Penerbit: Serambi
Harga: Rp 77.000


Sering kali, cinta membuat kehidupan seseorang berubah. Cinta tak sampai seorang Okei, serta demi keamanan diri membuatnya terdampar di Amerika.

Okei, berusia belia  untuk ukuran anak sekarang. Tapi perjalanan kehidupannya sungguh luar biasa. Ia berani berangkat sendiri untuk menemui sahabatnya, Matsuno,  yang baru tertimpa kemalangan ditinggal suaminya. Sebenarnya bukan kemalangan, mereka yang dianggap meninggal sebagai pahlawan akan membuat keluarga mendapat sanjungan dan pujian. Dengan bermodal nekat dan selembar peta, Okei berangkat menuju Gensuke-cho di Shibaguchi  dari kampung halamannya Zaimokumachi di Aizu-Wakamatsu.

Sosok Okei dalam buku ini tidak terlalu diungkap kecuali ia adalah anak seorang pengerajin gentong kayu. Saat perang, ayahnya ketiban rejeki membuat gentong sebagai wadah bubuk mesiu.  Okei memiliki seorang adik laki-laki yang sangat ingin bergabung menjadi samurai. Karena keluarga mereka bukanlah termasuk keluarga dari kalangan atas, maka sang adik harus dijadikan anak angkat salah satu keluarga samurai. Suatu kehormatan memang bagi keluarga Okei, walau diam-dian Okei harus menahan pilu setiap melihat sosok yang menjadi kakak angkat adiknya.

Betapa tidak, nama wanita itu yang disebut  pujaan hatinya saat mereka akan memadu kasih. Wanita mana yang tidak merasakan perih. Semula Okei merasa ia salah dengar apalagi  Kingo pujaannya sedang dalam keadaan mabuk. Belakangan ia sadar, Kingo bukan melihat   dirinya tapi bayang Yukiko.

Membaca buku ini saya justru kurang menikmati kisah percintaan Okei. Saya yang kurang begitu memahami perihal samurai justru mengalami sedikit kebingungan. Beberapa bagian mengisahkan para samurai yang meredam kasih pada pujaan hati. Demikian juga dengan Okei. Tapi Okei bukanlah seorang samurai. Atau dia menjadi samurai karena seuatu hal yang terlewatkan oleh saya? Lalu kenapa judulnya menjadi kasih Tak Sampai Seorang Samurai? Memang ada seorang samurai yang begitu membara cintanya kepada Okei, tapi mereka  bukan tokoh utamanya sehingga tidak pas jika bagian itu dijadikan judul. Kenapa judulnya tidak menjadi kasih Tak Sampai  Untuk Sang Samurai, atau apalah yang menunjukan buku ini mengisahkan tentang seorang gadis yang mendambakan cita seorang samurai. Mungkin juga karena mengisahkan tentang 

Untuk saya, buku ini lebih memberikan banyak informasi tentang kehidupan masyarakat Jepang saat itu serta bagaimana saat demam emas melanda California.Misalnya saja mengenai sosok Yukiko janda Jinbo Shuri. sebagai janda seorang yang memiliki kedudukan terpandang, ia harus memegang teguh nama keluarga suaminya. Saat suaminya dinyatakan tewas, ia dilarang keras melakukan seppuku. Ia harus hidup sebagai sosok yang dihormati atas pengorbanan sang suami. Kecuali saat perang terjadi hal-hal yang bisa menistakan dirinya, maka ia wajib membela martabatnya dengan cara seppuku atau meminta kerabatnya memenggal kepalanya.

Saat tentara musuh mulai berdatangan, sang ayah memenggal kepala adik dan ibunya sebelum melakukan seppuku Sementara ia harus meninggalkan rumah orang tuanya menuju rumah keluarga suaminya.  Walau seluruh keluarga suaminya telah melakukan seppuku ia wajib berada di rumah keluarga Jinbo, bahkan jika hendak melakukan seppuku. Bagi   wanita Jepang, setelah menikah maka ia harus mendahulukan keluarga suaminya, keluarga barunya. Harga diri lebih penting dari pada nyawa bagi mereka. 

Seppuku merupakan salah satu adat para samurai pada zaman bakufu. Seppuku pertama menurut catatan dilakukan oleh Minamoto no Yorimasa pada saat tahun 1180. Seppuku akhirnya menjadi bagian dari bushido, kode etik prajurit samurai. Seppuku digunakan untuk menghindari penyerahan diri ke tangan musuh guna mengantisipasi adanya penyiksaan  dan menebus rasa malu

Kisah tentang Matsuko juga tak kalah menawannya. Walau bersahabat, mereka berasal dari kelas sosial yang berbeda sehingga kadang tanpa sadar Matsuko memperlakukan Okei layaknya pelayan. Saat suami Matsuko meninggal dan ia dalam masa berkabung memang Okei telah membantunya. Bahkan tanda sengaja telah menjadi matcomblang bagi Matsuko dan suaminya, seorang pria asing.  Perkawinan keduanya merupakan hal yang luar biasa saat itu, janda samurai menikah dengan sorang asing saat suaminya belum lama meninggal. Banyak yang mempertanyakan tujuan mulia sang pria asing. Tapi kelak justru ialah yang menjadi perantara keberadaan Okei di luar negeri.

Menikahi seorang samurai dan membuat seorang wanita juga dituntut untuk lebih tegar. Jika pernah menonton film Last Samurai pada tahun 2003, tentunya akan melihat bagaimana Taka,  istri  Hirotaro, samurai yang yang dikalahkan oleh sang kapten Nathan Algren (diperankan oleh Tom Cruise) harus bersedia menampung dan merawat  orang yang menyebabkan kematian suaminya.  Ia tak kuasa melawan apa lagi perintah itu diberikan oleh sang pimpinan besar.

Beberapa urusan arus bawah diuraikan di sini. Misalnya kisah perselingkuhan sesaat antara Yukiko dan Kingo atau antara  Matsuko dengan seorang pemuda asing. Entah kenapa saya menangkap kesan hal itu merupakan hal yang biasa saja. Sex dianggap kebutuhan dasar mereka hingga jika dilakukan merupakan hal yang biasa saja, masalahnya melakukannya bukan dengan pasangan syah. Hemmm pandangan setiap individu soal urusan esek-esek memang tidak pernah ada yang sama.

Mitsugu Saotome merupakan nama pena yang digunakan oleh Kanegae Hdeyoshi (1 jan 1926-23 Des 2008) seorang penulis fiksi-sejarah berkebangsaan  Jepang.  Ia dianugerahi Penghargaan Yoshikawa Eiji Literatary pada tahun 1988

Bagi pengemar sejarah dan kisah bernuansa Jepang, buku ini layak dibaca dan dikoleksi.

Oh ya satu-satunya samurai yang saya kenal hanya Hikozza, Sang Samurai Cahaya dari Solo *kedip-kedip*
Gambar
 http://chillinaris.blogspot.com/2012/10/nilai-kebajikan-dalam-bushido-seorang.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar