Sabtu, 29 November 2014

Review 2014#65: Ingin Ku Lihat Senyum Pak Dahlan


Judul asli: Senyum Dahlan
Penulis : Tasaro GK
Penyunting: Tim Noura Books
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: Abdul Wahab
Ilustrasi isi: Sweta Kartika
Desain sampul: Windu Budi
ISBN : 978-602-1606-90-2
Halaman : 320

Penerbit : Noura Books

Harga : Rp 64.500,

Perjalanan, kadang harus dimulai dengan keterpaksaan. Meninggalkan satu takdir menuju takdir lainnya. Meninggalkan banyak nama dan berharap akan bertemu dengan nama-nama yang baru.
~Saptoto~
Kadang butuh waktu lama untuk menuntaskan penerbitkan sebuah trilogi. Lebih baik lambat dari pada tidak sama sekali Meski jeda cukup lama dibandingkan dengan buku terdahulu akhirnya terbit juga buku pamungkas dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Hal ini membuktikan penerbit cukup konsisten untuk menyelesaikan sebuah trilogi yang mereka terbitkan. Wujud sebuah komitmen untuk memanjakan pembaca.

Buku ini merupakan buku pamungkas dari  Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Dua buku terdahulu ditulis oleh penulis yang berbeda dengan penulis buku pamungkas ini. Tanpa sengaja saya membayangkan sosok keduanya. Saat menutup mata, saya membayangkan  sosok keduanya dalam gambaran yang sangat berbeda. 

Sosok penulis dua buku terdahulu, biasa saya sapa dengan  Daeng, terbayangkan berada dalam sebuah panggung sedang membacakan puisi atau manalog sementara beribu pasang mata memandangnya dengan kagum. Begitu selesai, riuh ramai tepuk tangan penonton terdengar membuat gedung seakan runtuh. 

Sementara sosok yang lain, penulis buku pamungkas ini, sedang sibuk  bekerja mengurus kebun sayurannya. Ia mengunakan kaos sederhana, celana selutut dan memakai caping, topi petani. Saat itu matahari nyaris berada di atas kepalanya. Tanda waktu untuk istirahat. Sambil duduk melepas lelah di bawah pohon, Tasaro terlihat sibuk menulis dengan bersemangat di  sebuah buku tulis lusuh yang sudah nyaris penuh. 

Sudah bisa membayangkan sekarang bagaimana perbedaan aura buku pertama dan kedua dengan buku ketiga? Namun  begitu, benang merah kisahnya masih terasa karena seorang Dahlan Iskan merupakan sosok dengan kepribadian yang kuat, bersahaja serta selalu perduli pada sesama.

Jika pada dua buku terdahulu kita akan diajak mengikuti kisah hidup seorang Dahlan Iskan dengan menjadi "bayangan" Dahlan muda maka tidak dalam buku ini. Pada buku ini kita juga diajak mengikuti perjalanan kehidupan dua orang remaja pria yang begitu mengidolakan Dahlan. Saptoto dan Kanday.

Saptoto sangat ingin menjadi seorang penyiar. Kekaguman sang ibu pada sosok Dahlan Iskan hingga membuat sebuah kliping tulisan Dahlan membuatnya mempertimbangkan jurusan Jurnalistik, disamping urusan biaya tentunya. Padahal idolanya adalah  Max Sopacua pembaca berita bukan Dahlan! 
 
Buat acara ini musti berangkat jam 04.00 WIB bareng Sis Rina W
Kanday berbeda karena namanya. Sejak sekolah ia sudah suka menulis meski hanya setaraf jurnalistik sekolah. Kliping Saptoto justru menjadi acuannya dalam belajar dan berkarya. Ia jauh lebih memanfaatkan dan mencintai kliping itu dibandingkan sang empunya. Malah bisa dikatakan Kanday lebih identik dengan kliping itu dari pada sang empunya. Niatnya untuk menggandakan kliping itu patut dipertanyakan mengingat ia bertindak seolah-olah itu adalah kliping miliknya.

Keduanya bertemu dan bersahabat karena permainan takdir, keduanya tak lulus UMPTN. Sama-sama mencari kuliah yang murah. Sama-sama mengambil jurusan Jurnalistik. Sama-sama jauh dari keluarga. Meski sering berbeda pendapat namun tanpa disadari keduanya terikat satu sama lain karena  Dahlan Iskan.
  
Dalam buku ini penulis mengisahkan tentang bagaimana sepak terjang serta perjuangan Dahlan Iskan sejak pindah ke Surabaya hingga sukses memajukan Jawa Pos. Menjadikan Jawa Pos sebagai koran dengan foto depan berwarna pertama di tanah air. Kisahnya bergantian diceritakan dengan kisah kehidupan Saptoto dan Kanday sejak mulai masuk kuliah hingga memantapkan diri memilih tujuan hidup.

Jika Kanday sangat tekun dan paham apa yang ia inginkan. Ia selalu ingin menjadi seperti Dahlan, syukur jika bisa masuk menjadi bagian dari mimpi Dahlan. Sementara Saptoto gamang akan pilihan kehidupannya. Ia kian ragu apakah ia menjalani pilihannya karena ia mulai mencintai dunia jurnalistik atau karena menghormati keinginan ibunya serta urusan perut yang tak bisa ditawar.

Saya tidak akan menguraikan lebih banyak mengenai Saptoto, Kanday serta bagaimana selanjunya arah langkah mereka menapaki kehidupan, karena itu sama saja dengan membocorkan keseruan kisah ini. Jadi silahkan dibaca sendiri saja yaaa.

Tasaro yang mantan wartawan mengungkapkan bagaimana kerja wartawan dengan sangat lugas. Gampang-gampang susah. Beberapa bagian membuat saya meringis beberapa kali mengingat pengalaman dengan beberapa wartawan saat masih di Salemba. Termasuk dengan urusan Radar Depok dan Bekasi hi hi hi (bagian ini harus inbox sajalah). Teringat bagaimana saya harus memanjat pagar karena pulang pagi sehabis ikut meliput sebuah konser musik.

Saya seakan mendapat penyegaran kuliah Jurnalistik saat membaca buku ini. Contohnya perihal penulisan investigasi. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam laporan investigasi, yaitu sudut pandang, narasumber serta referensi.

Setelah koran jadi, tanggung jawab tidak berhenti. Kita harus memastikan koran itu ada yang membeli. Untuk itu banyak hal yang harus diperhatikan selain perihal  distribusi, berita yang menarik salah satunya.  Kalau berita tidak menarik, agen malas menjual, pengecer apa lagi, jika demikian mana bisa koran sampai di tangan membaca. 

Saat menulis berita selain unsur 5W+1H (What, Who, Where, When, Why + How) ada beberapa hal yang tidak boleh dtinggalkan, tidak bisa ditawar lagi. Unsur tersebut merupakan  tokoh, besarnya peristiwa, kedekatan lokasi, yang pertama,  Human interest, memiliki misi/tujuan, unik, eksklusif, tren, prestasi. Hal tersebut membuat sebuah berita menjadi menarik sehingga pembaca tertarik membelinya. Kadang seseorang yang biasa berlangganan sebuah koran masih membeli koran yang lain karena tertarik pada berita yang dimuat. Jika itu terjadi maka bisa dikatakan koran tersebut sudah berhasil menyajikan berita yang menarik.




Dosen Pengantar Jurnalistik saya selalu menekankan bahwa kisah orang digigit anjing bukan hal istimewa kecuali orang yang digigit adalah pejabat, pembesar atau keluarganya. Tapi orang yang melakukan aksi menggigit anjing baru layak dijadikan berita. Berulang kali beliau menyebutkan hal tersebut.  Nyaris seisi kelas memperlihatkan wajah bosan saat kalimat tersebut diucapkan. Namun begitulah memang aturannya.

Saat membahas tentang bagaimana Dahlan berusaha membuat berita yang berbeda ketika meliput peristiwa tenggelamnya kapal Tampomas II ada baiknya istilah mengenai pelayaran juga diberikan catatan kaki. Misalnya tentang istilah tender di halaman 60.

Biasanya saya paling tidak perduli akan urusan typo. Yang penting kisah menarik dan typo bukan pada nama atau kata yang standar. Tapi kedua alis saya bersatu saat membaca sebuah kata pada halaman 164  baris kesembilan kata pertama. Disana tertulis Islan, bukankah seharusnya Iskan? Jika mengacu pada kalimat sebelumnya dimana Kanday dan Saptoto sedang membicarakan mengenai mimpi Dahlan Iskan.

Selain kisahnya inspiratif, buku ini sangat perlu dibaca oleh para mahasiswa jurusan Jurnalistik. Sehingga mereka memiliki modal selain teori di kampus sebelum terjun menjadi wartawan. 

Sekedar mengingatkan, untuk buku pertama dari trilogi ini repiunya bisa dibaca di
http://trulyrudiono.blogspot.com/2012/05/kisah-dibalik-2-s-dahlan-iskan.html

Sementara buku keduanya ada di
http://trulyrudiono.blogspot.com/2012/05/kisah-dibalik-2-s-dahlan-iskan.html

Kata favorit saya seputar buku muncul di halaman 127 merupakan kutipan dari Gus Dur,  "Orang yang meminjamkan buku itu bodoh, tapi yang mengembalikan buku itu lebih bodoh"

Dari jendela kamar saya bisa melihat rintik hujan membasahi bumi. Bagaimana kabar petani sayur itu ya, semoga sayurannya tidak busuk *memikirkan sang penulis a.k.a Tasaro tanpa sengaja*


---------------------------
Curcol sedikit

Sosok Kanday mengingatkan saya pada diri saya saat kuliah dulu. Terobsesi menjadi seperti Tintin tokoh wartawan karangan harge membuat saya ingin menjadi wartawan. Sayang SK masuk jurusan jurnalistik tidak saya terima, akhirnya belok sedikit ke Humas.

Selama kuliah saya justru lebih sering bergaul dengan mereka yang mengambil jurusan Jurnalistik. Dari menyusup ke kelas kuliah, ikutan peliputan para senior hingga rela dan iklas membuatkan tugas liputan. Semuanya demi kepuasan bathin. 

Kadang puas melihat karya tercetak di sebuah koran, padahal nama penulisnya adalah teman-teman yang sedang magang. Untuknya saat itu ada disket. Saya buat tulisan di rumah, mereka edit sedikit di kantor lalu jrenggg jadi liputan. Kebayang jika tidak, bisa-bisa pembimbingnya bingung kenapa karyanya bisa beda saat dikerjakan di kantor dengan yang disetorkan hi hi hi.

Tapi mungkin begitulah jalan hidup saya.
Meski memiliki kelebihan kemampuan mengarang (kata orang-orang), tulisan saya jarang dimuat di koran. Selain memang membuat untuk orang lain maksudnya. Sering saat saya membuat sebuah tulisan apapun namanya tidak tembus koran, padahal sudah melewati jalur pertemanan, menitip via senior yang bekerja di koran. Tunggu 1-2 bulan. Tulisan itu diubah sedikit oleh orang lain lalu hups!!!! Nongol dengan imuts di koran. Saya? Harus puas ditraktir makan siang. Padahal sakitnya tuh di sini *hiks* Bukan jodoh memang.

Serius!
Kata orang-orang saya paling pintar mengarang. Dari SD saya bisa membuat tugas mengarang perihal liburan mengenai serunya berlibur ke rumah nenek-kakek di desa. Bermain di sawah, mandi di sungai hingga menikmati sayuran hasil kebun.Nilainya selalu 8. Padahal kedua pasang nenek-kakek saya tinggal di kawasan elit Jakarta ^_^ Refrensinya hanyalah majalah Bobo.

Saat SMP-SMA serahkan urusan membuat surat cinta, karangan hingga tugas akhir pada saya. Dijamin surat cinta membuahkan hasil mengagumkan, minimal penerima terpesona sisanya tergantung keberuntungan pemangku hajat. 

Saat Ebtanas, saya sukses membuat 2 jawaban mengarang untuk sahabat-sahabat saya yang dengan terang-terangan mengaku tidak bisa mengarang. Untuk pak pengawas tidak sadar saya sedang memberikan jawaban soal mengarang saat pura-pura mengambilkan kertas coretan yang jatuh *modus lama tapi manjur*

Saat kuliah dan kerja, saya menjalani urusan menulis dengan bahagia. Kerja dengan tugas mengelola buletin interen tentang mobil. Padahal tahu apa saya tentang mobil kecuali rodanya empat, bensin dan oli. Bertahan lama hingga krismon membuat kantor itu gulung tikar.

Sekarang repiulah salah satu saya menyalurkan hobi menulis. Bukan uang memang yang saya peroleh tapi kepuasan bathin dan buntelan dari penerbit *kode buntelan*

Andai saya dulu nekat, mungkinkah saya bisa seperti Kanday *ngayal* Tapi begitulah hidup. Hidup penuh dengan pilihan, dan saya sudah menentukan pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar