Senin, 29 Desember 2014

Review 2014 #70: Happily Ever After

Penulis : Winna Efendi
Editor: Jia Effendie
Penyelaras Aksara: Widyawati Oktavia
Penata letak: Gina Ramayudha
Penyelaras tata letak:  Erina Puspitasari
Desainer sampul: Jeffri Fernando
ISBN : 9789797807703

9797807702
Penerbit : GagasMedia
Harga: Rp 57.000


Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita ingini. Dan. percaya bahwa akhir memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.


Apakah semua kisah harus berakhir bahagia? Pertanyaan itu yang selalu ada dalam benak saya. Apakah semua novel yang mengusung teman cinta selalu berakhir bahagia? Apakah novel detektif selalu berakhir dengan terpecahkannya kasus dan sang detektif berbahagia sepanjang hidupnya, menikmati ketenaran karena sukses memecahkan sebuah kasus spektakuler? Salah seorang penulis, kebetulan sahabat saya, berkata bahwa dongeng yang berakhir bahagia umumnya yang disukai pembaca, jika tidak bahaga buat apa dibaca. Karena membaca merupakan hiburan tentunya yang diharapkan adalah bacaan yang menghibur, yang berakhir bahagia meski untuk itu sang tokoh harus berjuang keras tiada henti layaknya tokoh sinetron yang sering dibuat selalu menderita. Anda boleh setuju, boleh juga tidak karena ini adalah pendapatnya.

Winna menawarkan sesuatu yang berbeda dalam Happily Ever After. Berakhir bahagia tetap ada namun tergantung dari sisi sebelah mana kita memandang dan memaknai bahagia itu. Dibandingkan dengan novel Winna yang lain, kisah ini sungguh berbeda karena meramu kasih keluarga, persahabatan, bullying, pengkhianatan serta pastinya juga ada kisah percintaan sebagai bumbu penyedap. Ah, nyaris luput, urusan cinta segitiga, keahlian Winna tetap hadir meski porsinya kecil.

Kisahnya tentang seorang seorang anak tunggal yang hidup berbahagia dengan keluarganya di sebuah rumah yang  dirancang menarik hingga menyerupai sebuah rumah pohon. Sering kali sang anak dan ayah membaca buku dongeng bersama, keduanya menyukai dongeng. Kehangatan sebuah keluarga  membuat sang anak mampu menghadapi banyak masalah dalam kehidupan ini. Masalah yang ada umumnya memang masalah remaja, tapi sikap kedua orang tuanya menghadapi serta memberikan dorongan membuat sang anak tumbuh kuat dan dewasa.

Tapi alam semesta punya rahasianya sendiri. Kebahagian keluarga tersebut mulai mengalami gangguan. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan demi menjaga kebahagian mereka. Kebahagian tidak mengenal batas ruang dan waktu.

Suatu hari, saat kabahagian keluarga itu sedang diuji, tanpa sengaja sang anak bertemu dengan seorang anak yang berbeda dengan anak lain yang ditemuinya. Anak itu mengajari banyak hal.  "Hidup adalah sebuah petualangan," begitu ungkap anak laki-laki yang bermain tetris di bawah ranjang rumah sakit. Sejak itu keduanya sering melakukan petualangan kecil bersama. 

Tidak  semua dongeng punya akhir bahagia.  Tapi bukan berarti cerita itu tidak bagus, atau karakter-karakternya tak  pernah bahagia. Kadang, sebuah cerita yang bagus punya akhir yang sedih. Demikian juga kisah keluarga tersebut dan kisah sang anak dengan anak laki-laki yang bermain tetris di bawah ranjang rumah sakit.

Lantas, apa sebenarnya kisah bahagia keluarga tersebut? Bagaimana kisah persahabatan sang anak yang berubah menjadi musuh ? Kenapa sang anak sering mengalami bullying? Dan apa hubungannya antara kebahagian sang anak, anak laki-laki yang bermain tetris di bawah ranjang rumah sakit serta daftar kegiatan yang ingin mereka lakukan sebelum meninggal? Silahkan dibaca sendiri yaaa. Sungguh, susah membuat review tanpa membocorkan kisah menawan dalam buku ini.

Sekali lagi Winna sukses membuat saya termehek-mehek. Membaca buku ini membutuhkan waktu cukup lama. Bukan! Bukan karena kecepatan membaca saya yang menurun, atau kisahnya membosankan, tapi lebih pada saya yang harus menata perasaan agar tidak terlalu larut. Alih-alih bersemangat membaca agar cepat selesai, saya justru membaca pelan sambil menstabilkan emosi.

Kekuatan Winna adalah kisah yang "aku nih" dalam setiap kisahnya. Maksudnya dalam setiap kisah ada bagian yang membuat pembaca merasakan kemiripan dalam situasi, perasaan atau bersikap dengan tokoh dalam cerita. Kemiripan itu bisa dalam satu orang atau suatu kondisi, bisa lebih bahkan bisa gabungan keduanya. Kedekatan emosional yang terbangun membuat pembaca menyukai kisah yang ditulis.  

Dalam kisah ini, "aku nih" buat saya adalah kedekatan tokoh utama pada ayahnya. Situasi dan kondisi saya jelas sangat berbeda dengan situasi dan kondisi yang dialami oleh sang anak. Tapi saya dan sang anak sama-sama dibesarkan dengan kebebasan berkhayal yang tinggi. Saya bisa berkhayal menjadi pendekar wanita dan seharian menggunakan selendang menari saya untuk berlatih jurus dan mempergunakan gagang sapu sebagai pedang atau alat masak sebagai belati yang khusus ditempa untuk saya ^_^. Sang anak bisa menggelar tenda di halaman sambil menatap aneka gugus bintang dan berkhayal. Aku anak papa seperti sang anak yang anak ayah. Duh jadi merindukan beliau hiks.

Pada tiap awal bab pembaca akan disuguhi sebuah kutipan dari pengarang terkenal seperti Neil Gaiman, Judi Picoult, C.S Lewis. Juga ada kutipan dari tokoh dalam cerita seperti Price Eric dari kisah Little Mermaid,  Simba dari kisah Lion King. Bahkan kutipan dari Barbara Bush juga bisa kita temukan. Sepertinya kutipan tersebut yang paling pas guna menggambarkan situasi yang sedang dialami oleh tokoh utama kita, " To us, family putting your arms around each other and being there."

Pada beberapa bagian, Winna meramu tokoh dalam dongeng menjadi dongeng lain namun terkait dengan kondisi yang diuraikan dalam bagian tersebut. Pada halaman 46 misalnya, saat menggambarkan sosok sang anak Winna menyangkutkan dengan salah satu kisah dimana setiap kali membaca maka tokoh yang ada dalam buku akan keluar dan hidup. Dalam versi Winna, justru sang anak yang memudar dan masuk dalam buku.

Saat seru membaca di halaman 90 mendadak saya menemukan halaman kosong. Sedikit panik, apakah ini pertanda buku saya cacat atau memang halaman tersebut dibuat kosong. Aneh saja posisinya, ada di sebelah kanan. Jika ingin membuat bab atau bagian baru tentunya tidak ada masalah jika diletakan di halaman 91, halaman yang kosong di sisi kanan buku. Terima kasih kepada Luckty yang bersedia saya ganggu untuk mengecek halaman buku yang ia miliki.  Pada bagian belakang saya menemukan lagi beberapa halaman kosong serupa. Ternyata memang begitu formatnya. Halaman disetiap pergantian bab dibuat kosong.

Judul tiap bab dibuat menarik seperti Percakapan Sepihak Dengan Kejujuran pada halaman 38, Dongeng Bintang-bintang pada halaman 232, Titik-titik Hitam di atas Layar dan sebagainya. Sayangnya tidak ada daftar isi. Dengan Daftar Isi pembaca bisa membaca aneka judul bab dalam buku ini yang memang judul bab yang menarik tersebut sehingga kian tertarik untuk membeli dan membaca buku ini. Apakah karena pada bagian yang merupakan awal bab tidak diberikan halaman sehingga tidak ada Daftar Isi? Mungkin hanya soal tata letak semata dari pihak penerbit, tapi membuat saya penasaran.

Kover dengan ilustrasi buku langsung menarik mata pelalap buku, minimal mata saya. Ditambah membaca nama penulis sepertinya tak ada alasan  untuk tidak memasukan buku ini  dalam keranjang belanjaan. Bagi penyuka kisah yang ditulis oleh Winna, nama yang dibuat dengan porsi nyaris sepertiga  halaman pasti menjadi daya tarik utama, Sementara bagi yang pertama mengetahui nama Winna atau bukan menyuka kisah dengan genre ini, gambar buku bisa menjadi daya tarik utama.

Tidak hanya soal dongeng, Winna juga mengulas tentang Charles Dickens walau sedikit. Minimal memperkenalkan tentang penulis yang karyanya cukup terkenal kepada pembaca yang belum mengenalnya. Karya  Charles Dickens yang cukup terkenal antara lain A Christmas Carol, Oliver Twist, Great Expectations, David Copperfield, Little Dorrit dan masih banyak lagi.  

Dalam kisah ini, rumah tempat tinggal tokoh utama disebut-sebut menyerupai rumah pohon. saya jadi penasaran mengenai hal tersebut dan mulai mencarinya di dunia maya. Sebuah situs menyebutkan bahwa Minister's Treehouse disebut-sebut sebagai rumah pohon paling besar di dunia. Bagaimana tidak, rumah ini memiliki 10 lantai, dibangun setinggi 30 meter. Mulanya, rumah ini dibangun oleh menteri setempat, Horace Burgess, tahun 1993. Konon, ia membangun rumah ini karena mendapat pesan dari Sang Maha Kuasa. Rumah pohon ini terletak di Crossville, Tennessee, AS. Meski rumah pohon ini sudah ditutup karena alasan keamanan, traveler masih bisa menengok wujud kemegahan rumah ini dari halaman saja.          

Sayang ya. Andai masih bisa digunakan tentunya banyak anak-anak yang berlarian dengan gembira. Mungkin para orang dewasa juga bisa mengenang masa kecil atau mewujudkan impian masa kecil tidur di rumah pohon. Tapi begitulah hidup ini, seperti ungkapan dalam buku ini, "Ngak semua yang kita mau bisa kita dapetin. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang harus dikorbankan."

Hemmmm jadi penasaran, apa ya yang saya tidak dapatkan dan apa yang saya korbankan *merenung*

Sumber gambar:
http://travel.detik.com/read/2013/09/10/194425/2354953/1520/2/7-rumah-pohon-paling-keren-di-dunia#menu_stop

3 komentar: