Minggu, 11 Juni 2017

2017 #39-40: Buku Seputar Kegiatan Literasi


Sebuah buku berisi kegiatan beberapa penggiat literasi mendarat dengan manis di kantor saya beberapa waktu lalu melalu jasa baik Mas Yudhi. Selesai membaca buku tersebut, saya jadi ingat ada sebuah buku tentang dunia literasi yang dikirim penulis beberapa waktu yang lalu. Ada baiknya keduanya disandingkan bersama.

Jangan dilihat ketebalan buku, karena memang tidak tebal kedua buku ini. Namun lihat isinya, sangat berguna dan bermanfaat bagi para penggiat literasi. Minimal menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin bergabung dalam gerakan literasi apapun wujudnya.

Pseudoliterasi
Penulis: M Iqbal Dawami
Penyunting:Robi'el-Adaby
ISBN:9786026043979
Halaman:138
Cetakan: Pertama-April 2017
Penerbit: Maghza Pustaka
Rating: 3/5

Banyak orang yang mengaku sebagai pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi tetapi perilakunya tidak mencermikan keliterasian. Orang yang demikian oleh penulis diberi julukan sebagai pseudoliterasi, orang yang berkecimpung di dunialiterasi tetapi tidak menjalankan literasinya. Bisa dikatakan mereka adalah aktivis literasi palsu. Tengok sekitar, mungkin Anda akan menemukan dengan cepat beberapa contoh, bahkan mungkin Anda sendiri juga termasuk dalam golongan ini.

Buku sebanyak 138 halaman ini berisikan segala hal terkait dunia literasi dari sisi penulis. Mulai dari kisah mengenai buku yang habis namun jauh dari embel-embel best seller, produk dan profesi literasi yang diremehkan, hingga pameran buku yang membosankan. Topik yang terasa sangat dekat dengan diri kita yang berada dalam dunia literasi bukan? 


Terdapat juga kisah tentang mimpi sang penulis bertemu beberapa tokoh yang dianggap mampu memberikan nuansa berbeda dalam geliat literasi di tanah air. Seru membaca bagian ini ^_^

Membaca buku ini membuat kita para (katanya) penggiat literasi perlu lebih sering melakukan instropeksi diri. Apakah yang sudah kita lakukan untuk dunia literasi? Apakah sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan kemauan kita? Atau bahkan hanya agar kita mendapat embel-embel penggiat literasi semata?

Ada banyak faktor untuk bisa menjadikan kegiatan literasi sebagai sesuatu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, juga bagi diri pribadi seseorang. Tidak hanya penerbit, bagian distributor, bahkan penimbun pun memiliki andil. Peraturan dalam dunia literasi perlu diperhatikan dan diterapkan dengan sebenar-benarnya.

Bagian yang mengisahkan tentang kekecewaan penulis ketika menghadiri sebuah bedah buku yang digelar pada ajang pameran buku, sepertinya juga banyak dialami oleh banyak teman-teman pemerhati dunia literasi. Pameran yang seakan hanya ajang menghabiskan buku stok sering ditemui, atau pedagang buku dadakan yang meramaikan ajang pameran buku.

Jika memperhatikan fenomena tersebut, kenapa bisa dikatakan minat baca di negara kita rendah? Mungkin minat baca rendah namun minat penimbun buku meninggi.


SERBU! Pengisahan Belanja Buku
Editor : Bandung Mawardi
ISBN : 978-602-609-6302
Halaman: 120
Cetakan : I, Maret 2017
Penerbit : Bilik Literasi
Rating: 3/5

Edan! Cuman orang gila yang mau pindah kerja dengan alasan buku

Uangnya habis  untuk beli buku, lihat saja sebelah tempat tidur penuh tumpukan buku. Ke diskon buku di Serpong sampai bawa koper.


Komentar pertama saya peroleh ketika teman-teman kantor mengetahui saya mengajukan diri untuk pindah ke perpustakaan yang baru dibangun. Untuk lokasi kerja yang ada di Depok mungkin tidak terlalu menjadi bahan pembicaraan. Tapi secara finansial, saya akan mengalami penurunan pendapatan sekitar dua juta rupiah. Penurunan itu terjadi karena di tempat baru saya hanyalah seorang staf biasa, sementara di tempat lama saya menduduki jabatan dengan uang tunjangan. Dan sekitar tahun 2011-2012 itu merupakan jumlah yang lumayan. Topik ini yang menjadi bahan pergunjingan banyak pihak, termasuk mereka yang ingin saya tetap berada di sana.


Sedangkan komenter kedua saya peroleh dari mama saya. Seringnya pak kurir mengantar buku berimbang dengan banyaknya buku yang bertebaran di sekitar tempat tidur saya. Biasanya paket tersebut baru sempat dibuka saat mau tidur, setelah dibuka yang diletakkan di lokasi terdekat, sebelah tempat tidur. Rasanya bahagia tidur dikelilingi buku.


Terdapat sepuluh orang yang tak kalah "sintingnya" membagikan kisah dalam buku ini. Mereka dengan semangat juang tinggi dan modal nekat berburu buku buluk (istilah yang sering teman2 pakai untuk buku lawas)dari Solo ke kawasan Blok M


Tiap orang membagi kisahnya masing-masing. Unik karena tidak ada yang sama. Kisah yang dibagikan adalah mengenai keceriaan dan sensasi berburu buku. Mereka adalah Mutimmatun Nadhifah, Qibtiyatul Maisaroh, Hanputro Widyono, Laila Sari, Na'imatur Rofigoh, Udji Kayang Aditya Supriyanto, Setyaningsih, Bandung Mawardi, Anindita Prabawati, dan M. Fauzi Sukri.

Mungkin karena kedekatan emosial sesama penggila buku,  maka secara pribadi saya bisa memahami sekali bagaimana paniknya mereka saat menemukan surga buku berada di hadapan. Bingung mau memulai dari mana, bagaimana memanfaatkan dana yang dibawa semaksimal mungkin. Apapun dilakukan untuk bisa berburu buku.  Saya pun begitu kadang-kadang.

Pilihan buku juga pastinya ada yang melenceng dari daftar buku yang sudah dibuat. Biasanya hal itu terjadi karena buku yang ada sangat menggoda untuk dibawa pulang. Pertimbangan utama kapan lagi bisa menemukan buku seperti itu. Jika sudah begitu, abaikan daftar, ingatlah pada anggaran semata. 

Seseorang menuliskan bahwa ia nekat berangkat demi memuaskan rasa ingin tahu berada di Blok M. Buntutnya, ia nekat menerima pinjaman uang karena dana yang ia bawa sangat minim. Pertimbangannya kapan lagi ia bisa memperoleh buku-buku tersebut. Hal tersebut sama rasanya dengan saya yang bahagia tak terkira karena tahun lalu bisa mengunjungi Big Bad Wolf dengan membawa uang hasil saya menang arisan.

Uniknya, para pembagi kisah juga menyertakan kover buku yang mereka beli. Memang tidak semua buku, umumnya hanya 1-2 buku saja.  Sayangnya bagian ini dicetak dengan warna hitam putih sehingga gregetnya berkurang. Tapi dari gambar yang ada, pembaca mungkin bisa menemukan judul buku yang selama ini tak pernah ia tahu.

Ilustrasi yang dijadikan kover juga menarik. Selain menggambarkan situasi saat mereka berburu buku, mempergunakan sosok yang dekat dengan pembaca lokal merupakan cara unik untuk menganggkat kembali tokoh lokal tanah air diantara serbuan tokoh superhero asing.

Sebenarnya pertanyaan utama saya, adalah mengapa Blok M yang dipilih? Apakah karena ada salah satu peserta yang memiliki toko langganan di sana? ataukah karena alasan kedekatan? Coba mereka mampir ke kantor saya, pasti seru melihat aneka buku lawas yang bersanding dengan buku-buku baru di rak